artikel gagap
Gangguan Berbicara (Gagap)
Nama : Ramadhan Dwi Cahya
Nim : A1D117016
E-mail : Ramadhandwicahya@gmail.com
PENGANTAR
Gagap merupakan
suatu kondisi dimana seseorang mengalami kesulitan atau kekacauan berbicara,
seperti tersendat-sendat, dan mengulang-ngulang suku kata awal dari sebuah kata
yang ingin disampaikan oleh si pembicara. Gangguan
gagap dapat terjadi karena tekanan psikologis pada saat awal pemerolehan bahasa
dalam masa perkembangan. Gagap juga
bisa disebabkan oleh faktor neurologis, yang penanganannya harus di bawa ke
dokter agar mendapat pengobatan intensif. Gagap melibatkan gangguan pada
kemampuan untuk bicara lancar dengan waktu yang tepat.
PEMBAHASAN
Cahyono (dalam Nurjaya, 2013) menyatakan bahwa gagap
atau stuttering merupakan salah satu
bentuk kelainan berbicara yang ditandai dengan tersendatnya pengucapan
kata-kata. Gagap terjadi ketika sebagian kata terasa lenyap, penutur mengetahui
kata itu namun tidak dapat menghasilkannya.
Efnida, dkk
(2015: 3), Gagap adalah gangguan bicara dimana suara, suku kata, atau kata-kata
diucapkan berulang atau berkepanjangan. Sehingga mengganggu aliran normal berbicara orang yang
mengalaminya.
Gagap adalah
ketidaknormalan verbalisasi kata yaitu tingginya penghentian bicara, suku kata
atau salah satu huruf dalam suku kata, penahanan dan pengulangan bunyi, serta
penggantian kata untuk menghindari kata yang menimbulkan masalah (Bogue, 2009;
Guitar, 2006; Halgin & Whitbourne, 2010; Parker & Parker, 2002; Walden,
dkk., 2012).
Berdasarkan beberapa
pendapat ahli dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian gagap adalah salah satu
bentuk kelainan
berbicara yang ditandai dimana
suara, suku kata, atau kata-kata diucapkan berulang dan tersendat-sendat.
Penyebab terjadinya gagap
Menurut Chaer (2009:153-154), kegagapan
dapat terjadi karena beberapa faktor berikut.
a.
Faktor-faktor
stres dalam kehidupan berkeluarga.
b.
Pendidikan
anak yang dilakukan secara keras dan kuat dengan membentak-bentak serta tidak
mengizinkan anak berargumentasi dan membantah.
c.
Adanya
kerusakan pada belahan otak (hemisfer) yang dominan.
d.
Faktor
neurotik famial.
Menurut
penelitian, gagap lebih banyak disebabkan oleh faktor psikologis dibandingkan
fisiologis. Trauma, ketakutan, kecemasan, dan kesedihan pada masa kecil
menyebabkan seseorang menjadi gagap sampai dewasa. Misalnya, anak yang kedua
orangtuanya sering bertengkar sehingga membuat anak takut, cemas, sedih, dan
sering menangis.
Gagap disebabkan
oleh multi faktor (Blomgren, Roy, Callister, & Merrill, 2005) yaitu faktor
keturunan, perkembangan bahasa, perilaku yang dipelajari, faktor orangtua,
faktor kejadian dalam kehidupan (Klompas & Ross, 2004; Lavid, 2003;
Millard, Nicholas, Cook, 2008; Sa’diah, 2012; Walter, 2010) dan faktor emosi
seperti kecemasan (Alm, 2004; Iverach, dkk, 2010). Faktor utama sebagai
penyebab gagap adalah kritikan yang terus diterima oleh seseorang sejak masa
kecil sehingga menimbulkan kecemasan dalam berbicara (Bogue, 2009; Guitar,
2006). Ketika anak mengalami peningkatan rangsangan emosi seperti kecemasan
maka, kegagapan akan muncul (Sa’diah, 2012), oleh karena itu kecemasan menjadi
awal mula terjadinya kegagapan pada anak akibat perlakuan lingkungan yang
negatif.
Berdasarkan
beberapa pendapat ahli dapat ditarik kesimpulan bahwa penyebab terjadinya gagap
adalah adanya psikologis dan kelainan neurologis. Faktor psikologis ini
berkaitan dengn trauma, ketakutan, kecemasan, dan
kesedihan pada masa kecil menyebabkan seseorang menjadi gagap sampai dewasa.
Misalnya, anak yang kedua orangtuanya sering bertengkar sehingga membuat anak
takut, cemas, sedih, dan sering menangis. Sedangkan faktor neurologis ini disebabkan oleh adanya
gangguan pada otak, saraf dan otot yang terlibat dalam kemampuan berbicara. Hal
ini disebabkan oleh kecelakaan maupun penyakit tertentu, misalnya disleksia.
Solusi mengatasi kasus gagap
Gagap
tidak akan berlanjut sampai dewasa apabila anak segera diterapi dengan baik.
Selain itu, dukungan dari lingkungan keluarga dan sekitarnya juga menjadi
faktor penting dalam usaha penyembuhan gangguan gagap ini. Jika kanak-kanak
dalam kurun waktu yang cukup lama masih menunjukkan kegagapannya dalam
berbicara, maka diperlukan adanya konsultasi dengan ahli, baik itu dokter
syaraf untuk mengetahui kerusakan pada bagian syaraf tertentu, atau dengan
psikolog untuk mengatasi masalah kecemasan yang dimiliki anak (dalam Nurjaya,
2013).
Para penderita gagap berpikir dengan gerakan
menggerakkan kaki, tangan, atau mengerjapkan mata pada saat berbicara dapat
membantu mengurangi kegagapannya. Ada juga silence treble dengan ciri si
penderita sudah membentuk suatu pola pada mulutnya tapi tidak keluar suara.
(Chairani dan Nurachmi,2005: 18).
Dari pendapat beberapa ahli dapat ditarik kesimpulan
bahwa solusi mengatasi gagap adalah melalui dukungan keluarga dan lingkungan
sekitar dalam membantu penyembuhan penyakit gagap tersebut, serta diiringi
dengan melakukan terapi kepada si
penderita agar kegagapan yang dialaminya cepat berangsur hilang. Tetapi
alangkah baiknya melakukan konsultasi kepada para ahli terapi agar mendapatkan
hasil yang lebih maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Asri Darmayanti Saragih. 2018. Analisis Bahasa Anak
Yang Mengalami Gangguan Kelancaran Berbicara
(Gagap). Universitas
Muhammadiyah Sumatera Utara.
I Putu Ardika Yana. 2015. EMPATHIC LOVE THERAPY UNTUK
MENURUNKAN KECEMASAN PADA ORANG DENGAN GANGGUAN GAGAP. Universitas Gadjah Mada,
Aliah Sarifah. 2013. Studi Kasus Pada Taman
Kanak-kanak Yang Mengalami Hambatan Berbicara. Universitas Pendidikan
Indonesia.
Indah, Rohmani Nur. 2017. Gangguan Berbahasa. UIN-Maliki
Press.
Komentar
Posting Komentar